My favorite football team

This is Andri Wijaya on the line.

This is default featured slide 2 title

This is Andri Wijaya on the line.

This is default featured slide 3 title

This is Andri Wijaya on the line.

This is default featured slide 4 title

This is Andri Wijaya on the line.

This is default featured slide 5 title

This is Andri Wijaya on the line.

Monday, March 31, 2014

Pengaruh Globalisasi Dalam Bidang Sosial dan Budaya

Budaya merupakan suatu kebiasaan yang mengandung nilai – nilai penting dan fundamental yang diwariskan dari generasi ke generasi. Warisan tersebut harus dijaga agar tidak luntur atau hilang sehingga dapat dipelajari dan dilestarikan oleh generasi berikutnya. Ada satu pepatah yang mengatakan : ”Suatu negara tidak akan menjadi negara yang besar jika tidak mengetahui jati diri dari budaya negara tersebut”.Tanpa adanya kebudayaan, suatu negara tidak dapat mempunyai ciri khas di mata dunia.
Masuknya globalisasi ke dalam suatu negara dapat memberikan dampak positif dan negatif bagi negara tersebut. Contohnya adalah negara kita negara Indonesia yang sudah terkena dampak positif dan negatif dari budaya timur. Dampak positif dari masuknya budaya barat adalah sebagai berikut :
  • Meningkatkan pembelajaran mengenai tata nilai sosial budaya, cara hidup, pola pikir yang baik, maupun ilmu pengetahuan dan teknologi dari bangsa lain yang telah maju. 
  • Meningkatkan etos kerja yang tinggi, suka bekerja keras, disiplin, mempunyai jiwa kemandirian, rasional, sportif, dan lain sebagainya.
Namun dampak negatif dari masuknya budaya barat ke negara kita sangatlah banyak antara lain adalah :
  •  Cultur Shock : Biasanya ditandai dengan perubahan budaya maupun kebiasaan dalam masyarakat. Norma masyarakat yang sebelumnya menjadi pedoman bagi seseorang bertindak perlahan-lahan berubah menjadi longgar. Misalnya kebiasaan memberikan salam dan mencium tangan pada orang tua sudah pudar di kalangan generasi muda. Pudarnya budaya atau kebiasaan pada masyarakat seperti memberikan salam dan mencium tangan pada orang tua sudah pudar di kalangan generasi muda sebagian besar disebabkan oleh masuknya budaya barat. 
  • Cara Berpakaian : Cara berpakaian budaya barat yang sangat bebas dan trend dunia berkiblat pada bangsa barat perlahan masuk ke budaya kita, akibatnya banyak para remaja ataupun anak dibawah umur sudah memakai pakaian sexy yang berbanding terbalik dengan apa yang diajarkan oleh agama yang mayoritas di negara indonesia beragama islam.
  • Kesenjangan Budaya : Kesenjangan budaya  ditandai dengan kebiasaan anggota masyarakat melanggar aturan atau hukum. Hal yang tidak biasa dalam masyarakat kini telah menjadi lazim untuk dilakukan. Hal ini akibat kebebasan yang diajarkan budaya Barat sehingga dirasa terlalu bebas tanpa disertai tanggung jawab.
  • Individualistis :  Dulu sosialisasi hanya dapat terjadi jika kita pergi keluar rumah, menyapa tetangga ataupun mengobrol. Namun dizaman modern ini, hanya dengan duduk dialam rumah dengan internet, bahkan kita bisa bersosialisasi dengan orang-orang yang berada sangat jauh. Inilah akar dari individualistis yang tercipta karena tidak bersosialisasi secara langsung. Hal ini akan sangat fatal karena menciptakan seseorang dengan sikap yang tidak memperdulikan orang lain selain dirinya. Karena internet itu mendekatkan yang jauh dan menjauhkan yang dekat.
  • Malas dan Lalai :  Seiring berkembangnya zaman, masyarakat beralih dari penggunaan Radio menjadi TV atau bahkan Internet. Hiburan yang disajikan begitu mengasyikan dan seru hingga membuat kita menjadi lalai dan malas. Bukan hanya berpengaruh pada kelalaian mengerjakan tugas namun juga dapat menyebabkan lalai dalam beribadah bahkan cenderung malas. 
Cara menyikapi globalisasi ini adalah dengan cara meningkatkan nilai keimanan dan moralitas kita sebagai masyarakat indonesia, meskipun globalisasi datang dengan banyak pengaruh negative, namun dengan keimanan dan moral yang tinggi pengaruh negative tersebut tidak akan mempengaruhi kita. Dan cara yang kedua adalah dengan cara melestarikan budaya dan adat istiadat kita bersama sama, Jika bukan kita sendiri generasi muda siapa lagi? Kebiasaan yang ada dalam masyarakat perlahan hilang karena globalisasi datang, kita harus melestarikan budaya dan adat istiadat leluhur kita bersama-sama.

Globalisasi, Ciri-Ciri Globalisasi, dan Dampak Globalisasi Bagi Masyarakat Indonesia

Globalisasi adalah diambil dari kata "globalisasi" diambil dari kata global, yang maknanya ialah universal. Achmad Suparman menyatakan Globalisasi adalah suatu proses menjadikan sesuatu (benda atau perilaku) sebagai ciri dari setiap individu di dunia ini tanpa dibatasi oleh wilayah Globalisasi belum memiliki definisi yang mapan, kecuali sekedar definisi kerja (working definition), sehingga bergantung dari sisi mana orang melihatnya. Ada yang memandangnya sebagai suatu proses sosial, atau proses sejarah, atau proses alamiah yang akan membawa seluruh bangsa dan negara di dunia makin terikat satu sama lain, mewujudkan satu tatanan kehidupan baru atau kesatuan ko-eksistensi dengan menyingkirkan batas-batas geografis, ekonomi dan budaya masyarakat.
Di sisi lain, ada yang melihat globalisasi sebagai sebuah proyek yang diusung oleh negara-negara adikuasa seperti Amerika, sehingga bisa saja orang memiliki pandangan negatif atau curiga terhadapnya. Dari sudut pandang ini, globalisasi tidak lain adalah kapitalisme dalam bentuk yang paling mutakhir. Negara-negara yang kuat dan kaya praktis akan mengendalikan ekonomi dunia dan negara-negara kecil makin tidak berdaya karena tidak mampu bersaing. Sebab, globalisasi cenderung berpengaruh besar terhadap perekonomian dunia, bahkan berpengaruh terhadap bidang-bidang lain seperti budaya dan agama. Theodore Levitte merupakan orang yang pertama kali menggunakan istilah Globalisasi pada tahun 1985.
Ciri-ciri globalisasi adalah:
  • Perubahan dalam Konstantin ruang dan waktu. Perkembangan barang-barang seperti telepon genggam, televisi satelit, dan internet menunjukkan bahwa komunikasi global terjadi demikian cepatnya, sementara melalui pergerakan massa semacam turisme memungkinkan kita merasakan banyak hal dari budaya yang berbeda.
  • Pasar dan produksi ekonomi di negara-negara yang berbeda menjadi saling bergantung sebagai akibat dari pertumbuhan perdagangan internasional, peningkatan pengaruh perusahaan multinasional, dan dominasi organisasi semacam World Trade Organization(WTO).
  • Peningkatan interaksi kultural melalui perkembangan media massa (terutama televisi, film, musik, dan transmisi berita dan olah raga internasional). saat ini, kita dapat mengonsumsi dan mengalami gagasan dan pengalaman baru mengenai hal-hal yang melintasi beraneka ragam budaya, misalnya dalam bidang fashion, literatur, dan makanan.
  • Meningkatnya masalah bersama, misalnya pada bidang lingkungan hidup, krisis multinasional, inflasi regional dan lain-lain.
Kennedy dan Cohen menyimpulkan bahwa transformasi ini telah membawa kita pada globalisme, sebuah kesadaran dan pemahaman baru bahwa dunia adalah satu. Giddens menegaskan bahwa kebanyakan dari kita sadar bahwa sebenarnya diri kita turut ambil bagian dalam sebuah dunia yang harus berubah tanpa terkendali yang ditandai dengan selera dan rasa ketertarikan akan hal sama, perubahan dan ketidakpastian, serta kenyataan yang mungkin terjadi.
Dampak Globalisasi Bagi Masyarakat Indonesia ada yang berbentuk positif dan ada yang berbentuk negatif, antara lain adalah :
Dampak Positif Globalisasi
- Keterbukaan Informasi
 Globalisasi membuat akses terhadap informasi semakin terbuka lebar, masyarakat bisa mendapatkan berbagai informasi dari banyak media, seperti televisi, internet, sosial media, dan lain-lain. Ini membuat masyarakat semakin terbuka, cerdas dan berpikir kritis. Ini merupakan salah satu dampak positif yang ditimbulkan dari globalisasi terhadap bangsa Indonesia.
- Komunikasi Semakin Mudah dan Cepat
Dulu mungkin orang tua kita membutuhkan waktu lama (berhari-hari) untuk berkomunikasi dengan temannya yang berada dinegara lain melalui media komunikasi konvensional surat menyurat. Tetapi saat ini era tersebut sudah usang, masyarakat lebih menyukai menggunakan media komunikasi yang murah dan cepat yaitu dengan telepon, internet dan sosial media
- Berkembangnya Ilmu Pengetahuan dan Teknologi
Dampak positif dari globalisasi lainnya adalah semakin berkembangnya ilmu pengetahuan dan teknologi di Indonesia. Globalisasi memungkinkan orang-orang yang pintar Indonesia menuntut ilmu diluar negeri seperti di Amerika Serikat dan Eropa. Dan jika sudah selesai diharapkan mereka-mereka itu bisa menerapkan dan mengaplikasikan ilmunya di Indonesia.
- Perekonomian Indonesia Semakin Menggeliat
Globalisasi membuat laju perekonomian dinegeri ini semakin menggeliat. Hal tersebut bisa terlihat dari neraca perdagangan kita yang terbilang baik karena nilai ekspor dan impornya relatif seimbang. Selain itu, Indonesia juga selalu dilirik oleh dunia internasional sebagai tempat terbaik untuk berinvestasi terutama untuk sektor pertambangan, pertanian dan industri tekstil.
- Meningkatnya Taraf Hidup Masyarakat
Dunia yang tanpa batas saat ini memungkinkan seseorang untuk berusaha meningkatkan taraf hidupnya dan juga keluarganya. Tidak sedikit warga negara kita yang bekerja diluar negeri untuk membiayai kebutuhan keluarganya didalam negeri. Meskipun demikian, sudah seharusnya era globalisasi ini diimbangi dengan manusia yang berpendidikan dan berkarakter.
Dampak Negatif Globalisasi
- Informasi Tak Terkendali
Globalisasi tidak hanya memberikan berjuta manfaat untuk kita semua, melainkan juga terdapat dampak negatifnya, salah satunya adalah arus informasi yang tak terkendali. Tidak semua informasi itu baik untuk kita, ada juga informasi yang tidak baik dan tidak sesuai dengan kepribadiaan kita. Oleh karena itu, era globalisasi ini harus diimbangi dengan Spiritual Quotient.
- Westernisasi (kebarat-baratan)
Dampak negatif globalisasi yang juga dirasakan oleh bangsa Indonesia saat ini adalah menjamurnya budaya barat. Jika hal itu baik maka boleh kita tiru, jika sebaliknya maka buanglah jauh-jauh. Kenyataannya saat ini banyak sekali budaya barat yang hype di Indonesia tetapi sebaliknya jarang sekali orang-orang yang mau melestarikan budaya asli Indonesia itu sendiri.






Saturday, January 18, 2014

Cara Menulis CV Agar Diterima Kerja

Agar dipanggil wawancara kerja, Anda harus menyiapkan curriculum vitae (CV) yang membuat pewawancara tertarik untuk membaca dan melihat Anda lebih jauh lagi. Sayangnya, banyak yang masih menganggap remeh surat lamaran kerja tapi berharap 'rezeki' datang kepada mereka. CV adalah langkah awal dan paling penting untuk mendapatkan pekerjaan, oleh karena itu Anda harus memerhatikanny dengan seksama. Berikut ini beberapa tips penting dalam penulisan CV.

1. Informasi yang Benar
Menurut Cherry Zulviyanti Riadi Lukman, chief consultant assessment di Experd Consultant, hendaknya Anda mengisi segala informasi nyata yang benar tanpa direkayasa sedikitpun. Mulai dari data diri, latar belakang pendidikan, pengalaman kerja dan prestasi yang pernah diraih. "Jangan kita paksakan misalnya harusnya umur sudah tidak sesuai dengan batas minimal perusahaan yang dituju tapi malah memaksakan," ujarnya saat dihubungi wolipop, Rabu (06/02/2013).

2. Lengkap & Padat
Cantumkan nama, alamat, status pernikahan, kemampuan-kemampuan, latar belakang pendidikan dan juga informasi-informasi tambahan lainnya yang sekiranya bisa menunjang profil Anda di mata staf personalia atau user. Misalnya pelatihan yang pernah diikuti, kursus atau pengalaman organisasi.

"Yang pasti kita membuat tulisan CV itu singkat padat tapi bisa menjual diri kita. Nggak perlu bertele-tele yang penting bisa eye-catching," tutur wanita lulusan Universitas Padjajaran, Bandung, jurusan Psikologi ini.

3. Mudah Dibaca
Pastikan surat lamaran kerja Anda terorganisir dan mudah dibaca. Font tulisan cukup besar agar HRD nyaman dan jelas membacanya. Setiap paragraf jangan terlalu panjang dan bertele-tele. Pastikan Anda menulis kalimat yang baik dan tidak diulang-ulang.

4. Teliti Sebelum Mengirim
Sebelum mengirimkan CV dan surat lamaran, periksa terlebih dulu resume Anda dan jangan sampai ada yang salah tulis. Jika melamar pekerjaan melalui email atau situs lowongan kerja, Anda juga perlu periksa ulang data-data di dalamnya.

5. Sertakan Informasi Tambahan yang Mendukung
Sertakan pengalaman kerja atau kemampuan yang sesuai dengan bidang pekerjaan. Misalnya Anda pernah mengikuti training jurnalistik jika ingin melamar di perusahaan media, atau seminar manajemen. Bisa juga prestasi yang pernah didapatkan untuk menunjukkan keseriusan dalam melamar kerja.

"Prestasi juga perlu ditulis seperti lomba nyanyi atau tulis saja. Nggak masalah, setidaknya cukup menjual CV itu. Itu hanya sebagai informasi tambahan. Dengan begitu bisa dinilai kejujuran kita. Kejujuran yang utama, keseriusan juga, itu yang dicari, prestasi hanya menjadi info tambahan," papar Cherry.

6. Maksimum Dua Halaman
Buat CV maksimum hanya dua halaman dan itu sudah mencakup semua informasi inti tentang Anda. Hanya profesional atau orang yang sudah pernah memegang jabatan tinggi, memiliki segudang pengalaman yang harus dicantumkan sehingga butuh kertas lebih dari tiga lembar.

7. Subjek Jelas
Jika mengirim surat lamaran lewat email, pastikan subjek yang Anda cantumkan jelas (misalnya: 'CV marketing' atau 'calon reporter'). File attachment juga harus jelas, seperti 'lampiran portfolio' atau 'contoh tulisan'.(hst/kik)

 
sumber: wolipop.detik.com

Manfaat Minum Air

1. Menghindarkan Anda dari Berat Badan Berlebih

Minum banyak air tidak akan membuat tubuh menjadi gemuk. Justru Anda akan makan dalam jumlah yang lebih sedikit karena air telah memenuhi perut Anda.

2. Membersihkan Tubuh

Langsung minum air putih setelah bangun tidur di pagi hari akan membantu membersihkan usus Anda. Dengan begitu, usus Anda lebih siap mengambil semua nutrisi yang Anda konsumsi sepanjang hari.

3. Membuat Sel-sel Baru

Tubuh Anda membuat sel-sel baru setiap hari dan air yang Anda minum bisa membantu produksi sel-sel baru. Hal ini juga memungkinkan otot-otot Anda untuk tumbuh lebih cepat setelah berolahraga.

4. Meningkatkan Metabolisme

Air bisa meningkatkan metabolisme. Jadi minumlah 2 gelas air di pagi hari sebelum Anda beraktivitas agar metabolisme tubuh berjalan lebih baik.

5. Menyembuhkan Sakit Kepala dan Infeksi

Saat sakit, Anda perlu lebih banyak minun. Sebab air tidak hanya bermanfaat melawan infeksi namun juga membuat Anda cepat sembuh. 

Sakit kepala terkadang diakibatkan karena tubuh kekurangan cairan, nah minum cukup air akan membantu Anda pulih kembali. Karena itu kapan pun Anda merasa tidak enak badan, minumlah satu atau dua gelas air sebelum minum obat.(vit/up)

 
sumber: health.detik.com

Sunday, November 10, 2013

Diponegoro

DIPONEGORO
Di masa pembangunan ini
tuan hidup kembali
Dan bara kagum menjadi api

Di depan sekali tuan menanti
Tak gentar. Lawan banyaknya seratus kali.
Pedang di kanan, keris di kiri
Berselempang semangat yang tak bisa mati.

MAJU
Ini barisan tak bergenderang-berpalu
Kepercayaan tanda menyerbu.

Sekali berarti
Sudah itu mati.

MAJU
Bagimu Negeri
Menyediakan api.

Punah di atas menghamba
Binasa di atas ditindas
Sesungguhnya jalan ajal baru tercapai
Jika hidup harus merasai

Maju
Serbu
Serang
Terjang

CINTAKU JAUH DI PULAU
Cintaku jauh di pulau,
gadis manis, sekarang iseng sendiri

Perahu melancar, bulan memancar,
di leher kukalungkan ole-ole buat si pacar.
angin membantu, laut terang, tapi terasa
aku tidak ‘kan sampai padanya.

Di air yang tenang, di angin mendayu,
di perasaan penghabisan segala melaju
Ajal bertakhta, sambil berkata:
“Tujukan perahu ke pangkuanku saja,”

Amboi! Jalan sudah bertahun ku tempuh!
Perahu yang bersama ‘kan merapuh!
Mengapa Ajal memanggil dulu
Sebelum sempat berpeluk dengan cintaku?!

Manisku jauh di pulau,
kalau ‘ku mati, dia mati iseng sendiri.

YANG TERAMPAS DAN YANG PUTUS
kelam dan angin lalu mempesiang diriku,
menggigir juga ruang di mana dia yang kuingin,
malam tambah merasuk, rimba jadi semati tugu
di Karet, di Karet (daerahku y.a.d) sampai juga deru dingin
aku berbenah dalam kamar, dalam diriku jika kau datang
dan aku bisa lagi lepaskan kisah baru padamu;
tapi kini hanya tangan yang bergerak lantang
tubuhku diam dan sendiri, cerita dan peristiwa berlalu beku

PERSETUJUAN DENGAN BUNG KARNO
Ayo ! Bung Karno kasi tangan mari kita bikin janji
Aku sudah cukup lama dengan bicaramu
dipanggang diatas apimu, digarami lautmu
Dari mulai tgl. 17 Agustus 1945
Aku melangkah ke depan berada rapat di sisimu
Aku sekarang api aku sekarang laut

Bung Karno ! Kau dan aku satu zat satu urat
Di zatmu di zatku kapal-kapal kita berlayar
Di uratmu di uratku kapal-kapal kita bertolak & berlabuh

DERAI DERAI CEMARA
cemara menderai sampai jauh
terasa hari akan jadi malam
ada beberapa dahan di tingkap merapuh
dipukul angin yang terpendam

aku sekarang orangnya bisa tahan
sudah berapa waktu bukan kanak lagi
tapi dulu memang ada suatu bahan
yang bukan dasar perhitungan kini

hidup hanya menunda kekalahan
tambah terasing dari cinta sekolah rendah
dan tahu, ada yang tetap tidak terucapkan
sebelum pada akhirnya kita menyerah

SENJA DI PELABUHAN KECIL 
buat: Sri Ajati 
Ini kali tidak ada yang mencari cinta
di antara gudang, rumah tua, pada cerita
tiang serta temali. Kapal, perahu tiada berlaut
menghembus diri dalam mempercaya mau berpaut

Gerimis mempercepat kelam. Ada juga kelepak elang
menyinggung muram, desir hari lari berenang
menemu bujuk pangkal akanan. Tidak bergerak
dan kini tanah dan air tidur hilang ombak.

Tiada lagi. Aku sendiri. Berjalan
menyisir semenanjung, masih pengap harap
sekali tiba di ujung dan sekalian selamat jalan
dari pantai keempat, sedu penghabisan bisa terdekap
Karya : Chairil Anwar

Sebelum Habis Masa

SEBELUM HABIS MASA
Karya Faddilatusolikah

Kabut hitam tebal berfose di angkasa sang pencipta.Udara dingin merasuk menembus pori-pori kulit keriput yang menyimpan seribu sejarah.Gubuk sederhana menjadi saksi bisu sandiwara kehidupan.Yang terkadang ada tawa bahagia dan terkadang ada duka nestapa.
“Kreeeeek,,,,pagi yang mendung,semoga semangat kita tak akan pernah mendung”Harap seorang janda tua dibalik bilik.
“Ya mak,,,,semoga hari ini menjadi lebih baik dari hari-hari yang sebelumnya”Sahut seorang gadis remaja yang tengah asyik menata kue dagangannya.Ya sebut saja tanti.Tanti adalah seorang gadis remaja yang pantang menyerah.Meski dia hanya tinggal bersama ibu dan adiknya yang bernama tio.Tanti sudah merasa bersyukur dan bahagia.Setidaknya ia merasa bahagia masih mempunyai keluarga dan tempat tinggal.Meski tak semewah hotel berbintang tapi tanti selalu menanamkan “Baiti Jannati”seperti yang diajarkan oleh baginda nabi SAW.
***

Sebelum Habis Masa
“Tanti,..”dengan gugup tanti melangkah ke depan kelas.Jantungya berdebar hebat bagaikan pacuan kuda.”Selamat ya!!! Terus semangat dan terus tingkatkan prestasimu” ucap bu Diana guru fisika tanti.Tanti mengulumkan senyum.”Trimakasih ya ALLOH ,,, semoga hamba bisa menjadi lebih baik lagi” gumam tanti dalam hati.
Tanti memang bukan berasal dari keluarga yang berada.Tapi niat yang terpatri dalam benaknya begitu kuat.Tinggal menghitung bulan lagi tanti akan menghadapi Ujian akhir nasional.Beban berat yang kini di pikulnya.Bukan masalah mata pelajaran yang diujikan tapi masalah biaya ujian.Tentu saja bukan biaya ujian tanti karena tanti telah mendapatkan beasiswa dari sekolahnya.Tapi tio adik tanti yang sekarang duduk dikelas 3 smp tak seberuntung tanti.Tio memang bukan anak yang malas.Tapi kemampuannya dalam mengingat materi pelajaran memang tak sepeka ingatan tanti.
***

Sore itu hujan begitu lebat.Atap rumah tanti yang bocor seakan telah mengizinkan air hujan menerobosnya.
“Huk…huk….huk…huk.huk..bruuuuuaaaaaak”tubuh kurus itu tergeletak lemas di atas lantai.
“Maaaaaaak…mak kenapa mak….hikz..hikz..hikz”teriakkan histeris tanti dan adiknya beradu dengan suara Guntur hujan.
“Tolooooooooooong….mak sabar mak…”digoyang-goyangkannya tubuh emaknya.
“Maaak,,,,mak kenapa mak???”Tio tak mau tinggal diam.Dia segera berlari keluar mencari bantuan.Meski tanti melarangnya karena hujan yang masih lebat tapi tio tetap melangkah dan tak menghiraukan tanti.
“Nduuk,,manusia itu tidak ada yang kekal.Semua yang bernyawa pasti akan mati.Ma’afkan semua salah emak jika untuk esok dan seterusnya emak tidak bisa menemanimu.Jadilah ibu dan bapak bagi adikmu.Emak tau ini akan menjadi beban beratmu.Ma-ma-ma’aff kan e-e-emak nduk,,LA-I-LA-HA-ILLALLAAAH MU-HAM-MADUR-ROSULULLAAH”Perlahan kelopak mata emak mengatup.
“EEEMMAAAAAAAAAAAAAAAaaaaaaak………………….ya Alloooh..emaaak….in-nalillahii ,,hikz-hikz-hikz,,wa-innaillaihi roji’un…”tanti memeluk tubuh emaknya erat-erat.Berharap ini semua hanya mimpi buruk baginya.Dilihatnya diluar rumah adiknya berlari munuju rumah mereka.
“Mbak tanti……. A yo kita bawa emak kerum ah sakit,aku sudah minta tolong P.Ahmad”Ucap tio terengah-engah.
“Tidak perlu tio.Emak sudah berpulang kepangkuanNYA,” hati tio tersentak mendengar bahwa emaknya telah meninggal.Tubuh tio menggigil.diselonjorkannya kakinya dilantai.”Innalillahi wainnailaihi raji’un……”
***

Selang beberapa bulan setelah kematian ibunya , tanti terus berusaha memendam mimipinya untuk dapat melanjutkan menimba ilmu ke perguruan tinggi.Dan pagi itu dia mendengar kabar bahagia namun menyesakkan hatinya.
“Duuuooor,,,nglamun ya kak ,,”getak tio mengagetkan tanti.
“ihhh,,,kamu ini yo ,,kebiasa’an dech,,”
“Ada apa sih kak ? cerita doonk …jangan anggap tio kaya orang laen ..”
“ehmmm,,,gini yo,,,kakak kan ikut snmptn di UI dan hari ini pengumumanya , dan,,,”tanti diam sejenak.”kakak diterima menjadi mahasiswi UI yo,,”tanti tertunduk menahan tangis.
“trus kenapa kakak sedih ? harusnya kan kakak bahagia”
“tapi kalau kakak kuliah beban hidup kita pasti bertambah,dan tio kan juga masih SMA”
“Kak (tio menatap kakaknya tajam) ,Kak sa’at pemakaman ibu tio telah berjanji didepan makam ibu kalau tio akan berusaha memberikan yang terbaik.masalah biaya dan kebutuhan hidup tio yang akan menanggungnya.”
“tapikan kakak ini yang lebih punya tanggung jawab tio…”
“kak,,tio ini anak laki-laki dan didunia ini wanita kedua yg paling tio sayang setelah ibu adalah kakak…tio akan bekerja keras untuk biaya kakak kuliah dan untuk biaya tio sekolah.kakak tenang saja tio tidak akan putus sekolah.karena kakak adalah semangat terbesar untuk tio”
Tanti hanya diam.Air matanya seakan tak ingin berhenti mengalir.Bukan air mata kepedihan,namun air mata bahagia.Tanti bersyukur memiliki seorang adik yang begitu menyayanginya.Ia peluk adiknya “tio,,,biar bagaimanapun tio gak boleh kerja keras sendirian.sekarang kita hanya berdua.jadi susah senang harus ditanggung bersama.tio kerja keras,kakakpun akan kerja keras.kita berjuang bersama yo”
Tio tersenyum dan berbisik “sebelum habis masa aku akan selalu menjaga kakak dan melakukan yang terbaik untuk kakak..”

…….THE END……

PROFIL PENULIS
Nama:faddilatusolikah
Mahasiswi uin maliki malang
Hobi : membaca dan menulis cerpen atau puisi
Alamat : Jln sunan Bonang 188 Kromengan malang
Alamat Fb : Fadilatus sholikhah

Doa Mali

Karya Intan Ekaverta

Langit sore tampak mendung. Awan-awan yang menggumpal gelap berjalan pelan diantara angin. Pepohonan pun tak hendak kalah, biar tak kuasa berpindah namun dedaunannya melambai terjang, seolah sekuat tenaga mengejar jalannya awan. Burung-burubg yang biasanya kerap menghiasi cerah langit sore pun kini tak satupun tampak, entah kemana bersembunyi.

Tik... kurasakan ada yang menetes dipipiku. Aku menengadah, tampaknya gumpalan awan mulai tak sanggup menahan beban. Walau hanya setetes yang jatuh, kupercepat langkahku memasuki salah satu gang di perumahan. Jangan sampai tetes-tetes lain yang akan menyusul membasahi jilbab putih dan seragam putih abu-abuku yang harus kembali dipakai esok hari.

Semakin mendekati rumah, semakin ramai tetes-tetes hujan turun ke bumi. Dua rumah lagi adalah rumahku, sedikit lagi, sabarlah hujan. Aku bergegas. Namun hidungku bergidik seketika. Ada bebauan yang mampir, menggelitik tiap dinding hidung dan trakeaku. Saat itu pula mataku menangkap seorang pria dengan topi cowboy, celana sebetis, dan baju kaos orange yang khas. Aku mengerinyitkan dahi, orang itu, kenapa sore-sore ada di depan rumahku? Bukankah biasanya dia bekerja dipagi hari dan selesai sebelum matahari menjilat sedap di siang bolong.

Doa Mali
Benar saja aku mengenalnya. Ia adalah salah satu orang eksis di perumahan ini. Bagaimana tidak, setiap hari dengan gerobak usangnya ia mengangkut sampah dari rumah-rumah untuk dibawa ke ujung jalan besar yang kemudian akan diangkut truk sampah. Konon kata para tetua disini, profesi ini telah digandrunginya sejak usianya masih belasan tahun, itulah sebabnya warga terbiasa memanggilnya tanpa sebutan Bapak walau sekarang ia bukan lagi seorang remaja. Tantunya dari wajah kotor dan hitamnya dapat diprediksi bahwa ia kini sudah kepala empat.

Ya, dia Mali. Mali, dengan nama itulah orang-orang perumahan mengenalnya.
Dengan menahan bebauan, kumasuki rumah tanpa sedikitpun terinspirasi untuk berbasa-basi menyapa Mali. Sementara itu hidungku yang bertanya-tanya tentang bebauan mendapatkan jawabnya. Bau itu berasal dari gerobak Mali yang tepat terparkir di depan pagar sepinggang di depan rumahku yang jauhnya hanya semeter dari pintu utama.
Hujan mulai turun. Awalnya hanya gerimis, lalu perlahan semakin deras, dan semakin deras.
***

Petir berseling-seling menyambar sementara angin bertiup semakin dingin. Rintik hujan diluar mulai lebat, mendendang di genting rumahku. Aku baru saja selesai mandi dan berganti pakaian ketika kulihat di meja makan ibu sedang menuangkan mie instan yang telah matang ke piring. Ini dia momen yang paling kutunggu setiap hujan lebat tiba. Sudah jadi kebiasaan aku dan ibu menikmati mi kuah hangat sembari membuka pintu ruang tamu lebar-lebar dan memandangi hujan sore diselanya. Terkadang menyakitkan juga mengingat hal-hal seperti ini hanya dapat kulakukan berdua dengan ibu. Namun apa boleh dikata, ayah telah dipanggil sejak dua tahun lalu.
Dengan semangat, kuambil baki dan kuletakkan dua piring mie di atasnya. Lalu kulangkahkan kakiku riang ke ruang tamu. Sementara ibu membawa dua gelas susu hangat ditangan kiri dan kanannya mengikuti langkahku ke ruang tamu.

Tapi, sesuatu menghentikan langkahku begitu membuka tirai yang memisahkan ruang tamu dan ruang belakang rumah mungilku. Hidungku kembali mendapat sinyal buruk, seketika aku teringat akan Mali, mungkinkah ia dan gerobak sampahnya yang bau masih bertandang di depan rumahku? Kuletakkan baki di atas boofet dan kubuka tirai sambil mengintip keluar. Dan benar, Mali masih disana, dengan sekuat tenaga menahan gerobak sampah dipinggul kanan yang dimiringkan sementara tangannya memutar-mutar roda gerobak yang rusak

Aku memelas, ternyata gerobak Mali rusak dan sepertinya ia butuh waktu lama untuk memperbaiki gerobaknya. Sementara itu, baunya akan tetap masuk ke ruang tamuku yang artinya, aku dan ibu tidak bisa menikmati mie bersamaan dengan menikmati hujan. Ibu hanya tersenyum seakan-akan menyurhku bersabar dan menyuruhku membawa baki kembali ke meja makan di belakang. Kami tetap menghabiskannya dengan ceria.
***

Azan maghrib berkumandang. Biasanya aku dan ibu akan berangkat ke mesjid yang tidak jauh dari rumah. Tapi hujan turun mulai lebat sehingga kami putuskan untuk sholat berjamaah di rumah saja. Seusai sholat, aku membaca satu halaman ayat suci al-Qur’an. Setelah itu kuambil buku-bukuku dan membawanya ke ruang tamu. Ya, disanalah aku terbiasa menyelesaikan tugas-tugas sekolahku karena cahaya lampu di ruang tamu adalah yang paling terang di rumah mungil ini. Dan yang menjadi favoritku adalah sofa dan meja tamu, membuatku merasa lebih santai saat belajar.

Namun, lagi-lagi, begitu aku melangkah ke ruang tamu, lagi-lagi pula hidungku mendapatkan sinyal buruk. Pasti Mali. Aku beringsut kesal, menghentak ke belakang dan mengadukannya pada ibu. Ibu segera memasang jilbabnya dan membuka pintu depan, memeriksa mengapa Mali tak jua beranjak dari depan rumah. Aku mengikuti ibu dan mengintai dari pintu. Dalam hati, berharap ibu mengusir Mali pergi dari depan rumah kami. Tapi tak mungkin ibu melakukan hal semacam itu. Toh buktinya ibu masih saja berbicara dengan lantunan suaranya yang lembut saat bertanya pada Mali.
“Ini Bu, jari-jari rodanya hancur, maklum sudah lama. Tadi Pak RT sudah belikan yang baru tapi roda yang lama keras sekali, ngga bisa lepas. Jdi belum bisa diganti.” Jawab Mali nyengir.
“Lepasnya jangan pakai tangan aja. Pakai obeng atau apa gitu.” Saran ibu.
“Udah dicoba Bu, tapi ngga mutar. Karatan soalnya.”
“Ngga dibawa ke bengkel aja?”
“Berat loh Bu. Lagian tadi pas magrib saya periksa bengkelnya sudah tutup.”
Ibu cukup lama bercakap-cakap dengan Mali hingga akhirnya ibu masuk rumah dan menyarankan kepadaku untuk belajar di kamar. Dengan sedikit kecewa aku memasuki kamar dan menggunakan meja belajar yang sebelumnya nyaris tak pernah kugunakan selain untuk meletakkan barang-barang. Dalam hati aku menggerutu, mengapa Mali harus memperbaiki roda gerobaknya di depan rumahku. Sementara itu, hujan semakin deras dan semakin deras.
***

“Nadia, bangun, Nak. Sebentar lagi subuh.” Kurasakan ibu membelai kepalaku lembut. Aku berusaha bangun walau kurasakan mataku begitu berat.
“Udah mau ke mesjid, Bu?” tanyaku sambil mengucek mata.
“Masih hujan, Nak. Kita solat subuh jamaah di rumah aja deh sepertinya.” Jawab ibu.
Kupasang kuat telingaku, memang, masih terdengar suara hujan menggelitik atap rumah walau tak sederas tadi malam. Lama sekali hujan mengguyur bumi. Tapi, itulah rahmat yang diturunkan Allah yang patut disyukuri.

Azan subuh berkumandang, aku dan ibu segera sholat berjamaah. Entah mengapa, setelah salam kedua, aku tiba-tiba teringat Mali. Belum lagi lepas mukenahku seusai sholat, aku beranjak ke ruang tamu, hidungku lagi-lagi mendapatkan sinyal. Kubuka sedikit tirai, dan kulihat ke luar. Rintik hujan masih turun dan gerobak Mali masih disana. Kukerinyitkan dahiku sekuat-kuatnya. Sadarkah Mali bahwa bebauan dari gerobak sampahnya itu bau? Atau hidungnya sudah tidak bisa lagi membedakan mana yang bau dan mana yang wangi.

Ibu tiba-tiba datang, menepuk bahuku dan ikut mengintip keluar. Namun, benar-benar aneh, bukan umpatan yang keluar dari mulut ibu, sebagaimana yang kuucap berkali-kali dalam hatiku akan tukang sampah itu. Melainkan, “Subhanallah...”
Aku menganga heran, “Kenapa, Bu?”
Ibu mengangkat telunjuknya, menunjuk ke satu arah yang berlawanan dengan letak gerobak Mali. Aku mengikuti arahnya dan dengan mata kepalaku kulihat Mali sedang bersujud khusyu menghadapkan dirinya ke arah kiblat di aspal yang basah, dibawah deras hujan yang turun semalaman.

Hatiku seketika mengerucut. Ada hal yang tiba-tiba mengganjal kuat, membekaskan perasaan sesal, salut, dan simpati. Pantaskah semalam aku kesal pada Mali karena bebauan yang ditimbulkan gerobaknya? Bukan salahnya jika gerobak itu sudah reot, toh dia tidak mungkin punya uang untuk membeli yang baru. Lagipula, sebenarnya gerobak itu bukan hanya menjadi tanggung jawab Mali seorang, tapi tanggung jawab semua warga yang sampah di rumahnya dibantu dibuangkan oleh Mali. Namun selama ini, hanya Pak RT yang rutin memperhatikan keadaan Mali. Warga lain tampak acuh, hanya menikmati keringat Mali tanpa mau tahu apa saja yang dialaminya.

Aku terus memandang Mali, memandang gerakan-gerakan sholatnya yang tenang. Tangannya mulai ditengadahkan ke atas, begitu juga kepalanya tampak memandang gemuruh langit. Setelah itu ia beranjak dan kembali ke gerobaknya. Tampaknya roda lama telah berhasil dilepaskan dan ia mulai memasang roda baru. Pastilah perjuangannya semalaman begitu berat, menahan dingin dan hujan sementara ia harus mengerahkan seluruh energinya.
***

Seragamku talah terpakai rapi. Perutku pun telah hangat oleh segelas susu. Aku mengambil sepatu, memakainya dan melangkah keluar. Hujan telah reda, mentari pagi pun bersinar cerah. Di ujung langit tampak pelangi menggantung indah.
“Pergi sekolah, Neng?” suara parau terdengar menyapa.
Aku menoleh, melihat Mali tersenyum padaku. Seketika aku balas senyum dan menjawab, “Iya.”
Tampaknya Mali telah sukses mengganti roda gerobaknya.
“Kelas berapa, Neng? “ tanya Mali lagi.
“Masih kelas satu SMA.” Jawabku.
“Wah, beruntung Neng bisa sekolah. Rajin-rajin belajar, atuh. Kalau boleh tahu cita-citanya apa Neng?”
Aku sedikit risih, namun mengingat kejadian subuh tadi aku tetap menjawab dengan ramah, “Pengen jadi dokter, sih.” Dalam hati kutambahkan, kalau nantinya ibu punya uang cukup.
“Wah, bagus itu, Neng. Saya doakan cita-citanya tercapai ya, Neng. Kalau jadi mahasiswa kedokteran nanti jangan sombong sama saya.”
Aku tertawa kecil, dibuat-buat, sekedar basa basi, dan segera pamit pergi sebelum Mali menemukan pertanyaan baru yang dapat menahanku melangkah ke sekolah.
***

Itu terakhir kalinya. Ya, terakhir kalinya aku melihat Mali. Sejak pagi itu, Mali tidak pernah kembali untuk membereskan sampah lagi. Beberapa hari sampah di depan tiap pagar rumah menumpuk, menyebar bau tak sedap di sela-sela peruamahan. Warga hanya dapat mengumpat, menggunjing, atau ada juga yang berinisiatif melapor pada Pak RT. Sementara Mali tak kunjung tiba.
Entah kemana ia, sementara satupun warga tidak ada yang tahu tempat tinggalnya dimana. Hingga setelah dua minggu berlalu, Mali digantikan oleh orang lain. Tukang sampah yang baru, seorang wanita yang selalu mengumpat tiap bekerja.
***

Aku kembali membolak-balik buku Sobotta yang kupinjam dari perpustakaan sebelum memasuki ruang anatomi, tempat kadaver-kadaver terlelap menantikan siapa saja yang hendak mempelajari tubuhnya. Jas putih panjang untuk memasuki laboratorium berlambangkan Fakultas Kedokteran telah terpasang rapi ditubuhku.
“Nadia, ayo masuk.” Ajak Dila, teman sejawatku.
Aku berdiri, memasukkan Sobotta ke dalam tas dan kuraih handscone dari kantong jas laboratorium, lalu kulangkahkan kakiku memasuki ruang anatomi. Bau formalin seketika menyergap masuk ke hidungku. Ini yang kedua kalinya aku memasuki ruangan ini, setelah minggu lalu mengamati jantung yang telah dipisahkan dari tubuh empunyanya, entah milih siapa. Kali ini kami akan mempelajari susunan pembuluh darah. Karena itu, perlu mayat yang masih utuh organ-organnya dari kepala sampai kaki.

Setelah mendapat pengarahan, kami dibagi atas beberapa kelompok dan masing-masing kelompok mendapatkan satu mayat. Aku dan kelompokku menghampiri mayat paling ujung, yang masih tertutup kain putih. Temanku segera menyibak kain tersebut sehingga terlihatlah tubuh yang bagian perutnya telah terbelah. Kulit-kulit dan ototnya telah dibuka sedemikian rupa sehingga terlihatlah pembuluh-pembuluh darah yang telah hitam.

Aku memperhatikan mayat itu dari ujung kakinya, terus naik, hingga sampai wajahnya. Tapi aneh, wajah ini rasanya tidak asing lagi. Seakan-akan aku mengenalnya. Terus kuperhatikan wajah itu, berpikir keras, benarkah aku pernah melihat wajah ini sebelumnya?

Seketika pikirku melintas kemasa lampau, ke masa dimana hujan lebat turun membasahi perumahan. Dimana bebauan busuk dari sebuah gerobak sampah memasuki ruang tamuku, menghambat beberapa aktivitas yang kerap kulakukan disana. Malam itu, seorang tukang sampah mengerahkan seluruh tenaganya memperbaiki gerobak tanpa satupun warga berinisiatif memberi bantuan. Hingga pagi menjelang, saat pelangi menggantung, beliau menyapaku, mendoakan agar cita-citaku tercapai dan berpesan, jangan sampai aku sombong padanya.

Aku terus memandang wajah itu. Kuingat lagi, betapa senagnya ketika aku bisa lulus di Fakultas Kedokteran dengan beasiswa penuh. Sedikitpun aku tidak ingat saat itu, akan siapa yang pernah mendoakanku. Bahkan aku tidak memikirkan, benarkah doa dan usahaku yang bukan apa-apa yang diijabah oleh Allah ataukah doa orang lain yang menghadapi hidupnya penuh keikhlasan.

Air mataku tiba-tiba menetes. Tubuhku tiba-tiba kaku, aku merunduk dalam, sementara teman-teman lain mulai sibuk mengamati letak-letak pembuluh darah dan mengacuhkan reaksiku. Sejenak aku tidak yakin ini adalah Mali. Setahuku di Indonesia, kalaupun ada mayat tanpa identitas akan dikuburkan dalam jangka waktu tujuh hari. Kecuali mayat orang yang sebelumnya mewasiatkan dirinya untuk dunia pendidikan atau keluarganya merelakan tubuh mayat tersebut diobrak-abrik.
Entahlah, aku tak habis pikir. Yang jelas, wajah di depanku ini seolah-olah sedang menyapaku dan menanyakan kabarku.
“Nadia, kenapa?” tanya Dila, sepertinya menangkap gelagat anehku.
Aku tersenyum dan menggeleng, lalu membual, “Ga tahan bau formalin,” dan kulangkahkan kakiku maju menuju Mali yang terlelap. Mulai kususuri pembuluh darahnya dengan hati-hati, karena begitulah harusnya orang yang selalu berjasa dan ikhlas sepanjang hidup bahkan matinya ini diperlakukan.

Aku menarik napas dalam dan menghembuskannya kuat. Mali... lirihku. Tubuh itu kaku, tak menjawab, dan tak mungkin akan menjawab. Namun aku tahu, dari wajahnya yang kotor dan hitam, ia tersenyum tulus padaku, memaafkan karena aku lupa dan sombong padanya. Karena dihatinya selalu ada keikhlasan.
***

PROFIL PENULIS
Nama : Intan Ekaverta
Email : semangatmaroon@ymail.com
FB : https://www.facebook.com/verta.firebender

Mahasiswa tingkat 1 Fakultas Kedokteran Universitas Andalas Padang